Selasa, 27 Oktober 2009

pendapat allport mengenai manusia,perkembanganan proprium, ciri-ciri kepribadian yang matang menurut Allport, kepribadian (self) menurut Rogers

A.Pandangan Allport tentang manusia

Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tidak sadar,kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi. Akan tetapi, dia percaya bahwa kekuatan-kekuatan yang tidak sadar itu merupakan pengaruh-pengaruh yang sangat penting pada tingkah laku orang dewasa yang neoritis. Akan tetapi individu-individu yang sehat berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu
Allport juga mengemukakan bahwa dengan memakai model mesin,hewan,anak-anak,tidak didapatkan dasar yang cukup kuat untuk menyusun teori yang bermanfaat mengenai tingkah laku manusia. Dapat dicatat bahwa sikap individu pada tingkah laku manusia menimbulkan pesimisme terhadap kemungkinan yang terdapat dalam metode dan teori psikologi untuk menerangi keajaiban tingkah laku manusia.

B.perkembangan proporium

Proprium atau propiate dapat didefinisikan seperti dalam kata “appropriate” sesuatu yang dimiliki seseorang adalah unik bagi seseorang. Proprium terdiri dari hal – hal dan proses – proses yang bersifat pribadi bagi seorang individu dan dapat menentukan seseorang yang unik. Contohnya,”saya sebagaimana dirasakan dan diketahui individu sehat”.
Perkembangan proprium terdapat tujuh tingkatan diantaranya :

• Diri jasmaniah

Bayi tidak dapat membedakan antara diri (“saya’) dan dunia sekitarnya. Berangsur - angsur, dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman - pengalaman perseptual, maka berkembanglah suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada “dalam saya” dan hal-hal lain “di luarnya”. Ketika bayi berusia 15 bulan,maka muncullah tingkat pertama proprium-diri jasmaniah.

• Identitas diri

Pada tingkatan kedua ini anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin hari ini adalah bayangan dari orang yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang “saya” atau “diri” tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.

• Harga diri

Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Pada tingkat ketiga ini anak membuat benda – benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan, manipulasi dan mengubah lingkungan itu.

• Perluasan diri

Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut. Pada tingkat keempat ini permulaan dari kemampuan anak untuk memperpanjang dan memperluaskan dirinya.

• Gambaran diri

Hal ini menunjukkan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi-interaksi antara anak dan orang tua. Lewat pujian dan hukuman, anak belajar bahwa orang tuanya mengharapkan supaya menampilkan tingkah laku-tingkah laku tertentu dan menjauhi tingkah laku-tingkah laku lain. Tingkatan kelima ini dapat mempelajari harapan – harapan orang tua kepada anak untuk mengembangkan dasar perasaan tanggung jawab moral.

• Diri sebagai pelaku rasional

Pada tingkatan keenam ini anak mempelajari aturan-aturan dan harapan baru di pelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah serta hal yang penting adalah diberikannya aktifitas dan tantangan intelektual. Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalahnya dengan memakai proses-proses yang logis dan rasional.

• Perjuangan proprium

Allport percaya bahwa masa adolsence adalah suatu masa yang menentukan. Orang-orang sibuk mencari identitas diri yang baru, sangat berbeda dari identitas diri pada usia 2 tahun. Karena didorong dan ditarik dalam arah yang berbeda oleh orang tua dan lingkungan luar maka anak tersebut akan berusaha menemukan suatu kepribadian orang dewasa.

C. ciri-ciri kepribadian yang matang menurut Allport

Ø Perluasan Perasaan Diri

Ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian-perhatiannya di luar diri. Akan tetapi, tidak cukup dengan berinteraksi dengan seseorang atau sesuatu diluar dirinya, misal pekerjaan. Allport menamakan hal ini sebagai “partisipasi otentik” yang di lakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia.

Ø Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain

Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap prang tua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik.
Perbedaan antara hubungan cinta dari orang – orang dengan hubungan cinta dari kepribadian yang sehat. Orang yang neurotis menerima cinta lebih banyak dari pada kemampuan mereka untuk memberinya. Sedangkan cinta dari kepribadian yang sehat adalah tanpa syarat dan tidak melumpuhkan atau mengikat.

Ø Keamanan Emosional

Kualitas keamanan emosional adalah apa yang disebut Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan dari kemauan dan keinginan. Orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran – kemunduran ini, mereka tidak menyerah kepada kekecewaan tetapi mampu memikirkan cara – cara yang berbeda untuk mencapai tujuan – tujuan substitusi.

Ø Persepsi Realistis

Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sedangkan orang-orang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang lain atau situasi yang jahat atau baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.

Ø Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas

Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan dan bakat-bakat tertentu akan suatu tingkat kemampuan. Tetapi, tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan-keterampilan yang relevan; kita harus menggunakan keterampilan itu secara ikhlas, antusias,melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.

Ø Pemahaman Diri

Pengenalan diri yang baik menuntut pemahaman tentang hubungan-hubungan antara kedua gagasan ini, maka individu juga semakin matang. Hubungan lain yang penting adalah hubungan antara apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya dan apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Orang yang memiliki tingkatan ini pemahaman akan dirinya sangat tinggi atau wawasan dirinya tidak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain.

Ø Filsafat Hidup yang Mempersatukan

Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka. Allport menyebut dorongan ini yang mempersatukan “arah” (directness) dan lebih kelihatan pada kepribadian yang sehat dari pada orang neurotis.

D.perkembangan kepribadian self

Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua segi lainnya. Segi ini adalah diri dan itu menggambarkan dengan bertambahnya kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mulai mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi miliknya atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran memngenai siapa dia.

E.peranan positif regards dalam kepribadian

Memberi kepuasan terhadap anak jika dia mendapat kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang-orang lain, tetapi dia akan kecewa jika dia menerima celaan dan kurang mendapat kasih sayang dan cinta. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting dalam memberikan cinta dan kasih sayang bagi perkembangan anak.

f.ciri orang yang berfungsi sepenuhnya
a.Terbuka pada Pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa distorsi atau rintangan. Dimana orang dapat mengetahui tentang kodratnya.

b.Kehidupan Eksistensial

Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada moment itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atau pengalaman moment yang berikutnya.

c.Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri

Karena orang yang sehat terbuka sepenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Informasi ini berisi kebutuhan-kebutuhan orang itu, tuntutan-tuntutan sosial yang relevan,ingatan-ingatan terhadap situasi yang serupa pada masa lalu dan persepsi terhadap situasi sekarang. Karena terbuka pada semua pengalaman dapat menghidupkan pengalaman itu sepenuhnya, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi.

d.Perasaan Bebas

Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau.

e.Kreativitas

Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat lain yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandainya kalau mereka tidak demikian. Orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, dan percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang yang mampu mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka.

Referensi :
- buku psikologi pertumbuhan DUANE SCHULTZ

Jumat, 09 Oktober 2009

Kritikan aliran humanistik terhadap aliran psikoanalisa dan behavioristik.

Kritikan aliran humanistik terhadap aliran psikoanalisa dan behavioristik.
Terhadap Psikoanalisa
Disini humanistik sangat tidak menyetujui sikap pesimistis yang dicerminkan dari Psikoanalisa, karena aliran Humanistik adalah aliran yang optimistik dan penuh harapan. Percaya pada kapasitas individu.
Humanistik juga sangat tidak menyetujui bahwa manusia selalu dilihat dari sisi sakit oleh aliran Psikoanalisa, karena pada Humanistik individu tidak hanya cukup bebas dari sakit emosional, tidak asanya neurotic dan psikotis diaman tidak cukup menilai seorang individu sebagai pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit emosional hanya merupakan suatu langkah awal yang diperlukan untuk pertumbuhan karena individu harus mencapai sesuatu yang lebih jauh lagi.
Disini individu selalu diingatkan dengan masa lalu atau masa lampaunya, sedangkan humanistik menilai individu pasti dapat dan harus mengatasi masalah masa lampaunya.
Terhadap Behaviorisme
Aliran Humanistik memahami manusia sebagai suatu totalitas. Oleh karenanya sangat tidak setuju dengan usaha untuk mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku (behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia harus berkembang lebih jauh daripada sekedar memenuhi kebutuhan fisik, manusia harus mampu mengembangkan hal-hal non fisik, misalnya nilai ataupun sikap.
Percaya pada kodrat individu secara kodrat biologis dan ciri lingkungan. Seorang manusia di aliran behaviorisme dianggap sebagai mesin, akan tetapi dalam aliran humanistik punya pandangan yang segar tentang manusia.

Referensi :
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/humanistik.html

Kamis, 08 Oktober 2009

PERBEDAAN TEORI KEPRIBADIAN SEHAT PSIKOANALISIS, BEHAVIORISTIK DAN HUMANISTIK

Pada dasarnya aliran psikoanalisis melihat dari sisi negative individu juga alam bawah sadar (id, ego dan superego), mimpi dan masa lalu. Sedangkan aliran Behavioristik manusia diperlakukan sebagai mesin atau maksutnya manusia diperlakukan sebagai system kompleks yang berrtingkah laku menurut cara yang sesuai hukum.
perbedaan lainnya yaitu :
1. Psikoanalisis
• Terbatas mengabaikan potensi yang dimiliki oleh manusia.
• Melihat dari sisi sakit adalah sebagai kodrat manusia yang negative
• Memberikan gambaran yang pesimistis tentang kodrat manusia

2. Behavioristik
• Aliran ini menganggap manusia yang biasa memberikan respons positif terhadap stimulus dari luar.
• Aliran ini juga mengaggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
• Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).

Tapi dapat disimpulkan bahwa teori psikoanalisis melihat dari sisi manusia yang negative, seperti konflik pada masa kecil, manusia yang dianggap tidak sehat.
Sedangkan behavioristik melihat manusia sebagai mesin pemanas, yang tersusun baik, teratur dan ditentukan sebelumnya dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan kreativitas.

ALIRAN HUMANISTIK
Lahir sebagai revolusi ketiga atau dikatakan sebagai mazhab ketiga psikologi. Psikologi humanistik melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisis dan behaviorisme dengan memasukan aspek positif yang menentukan seperti cinta , kreativitas , nilai makna dan pertumbuhan pribadi. Psikologi Humanistik banyak mengambil penganut Psikoanalisis Neofreudian. Asumsi dasar aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan
Aliran ini menganggap setiap orang memiliki kemampuan untuk lebih baik, memiliki pandangan yang optimistic dan berharap lebih baik.
Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2: yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

Aliran ini punya pandangan yang segar tentang manusia. Melihat potensi individu untuk tumbuh dan berkeinginan menjadi yang lebih baik. Aliran ini optimistik dan penuh harapan, percaya pada kapasitas individu untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan dan memenuhi diri seseorang untuk menjadi sesuai yang diinginkannya menurut kemampuannya.

Referensi:
www.wikipedia.com
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/humanistik.html

Sabtu, 03 Oktober 2009

Teori Psikoanalisa dan Teori Psikososial

Penjelasan Teori Psikoanalisa Sigmund Freud dan Teori Psikososial Erik H.Erikson
1. Teori Psikoanalisa
Memandang perkembangan dibentuk oleh kekuatan bawah sadar yang memotivasi perilaku manusia.
Atau perspektifnya yaitu pandangan bahwa perkembangan dibentuk oleh kekuatan kesadaran.
Psikoanalisis ditandai untuk metode penafsiran, bahwa pencarian makna yang tersembunyi dari apa yang nyata melalui tindakan dan pembicaraan atau imajiner produksi, seperti mimpi, deliriums, asosiasi bebas.

Perilaku dan proses mental manusia dimotivasi oleh kekuatan-kekuatan dan konflik-konflik dr dalam—manusia memiliki sedikit kesadaran & kontrol atas kekuatan tsb perilaku manusia mjd lebih rasional-bisa diterima secara sosial.

Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego.
Id (Das Es) adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
Ego (Das Ich) adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego.
Superego (Das Ueber Ich) adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.


2. Teori Psikososial
Teori delapan tahap Erikson, sebuah proses perkembangan ego atau diri yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya.

Menurutnya, perkembangan kepribadian manusia terjadi sepanjang rentang kehidupan. Dalam teori ini perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial—hubungan dgn orang lain. Perkembangan kepribadian manusia ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan seseorang mengatasi krisis yang terjadi pd setiap tahapan sepanjang rentang kehidupan.

Tahapan Psikososial (Human Development, Diane E.Papalia):
a. Kepercayaan dasar vs ketidakpercayaan (lahir hingga 12-18 bulan)
Disini bayi mengembangkan kepercayaan bahwa dunia “nya” merupakan tempat yang baik dan aman
b. Autonomi vs rasa malu dan ragu (12-18 bulan hingga 3 tahun)
Anak mengembangkan keseimbangan independent dan kepuasaandiri terhadap rasa malu dan keraguan
c. Inisiatif vs Rasa bersalah (3 hingga 6 tahun)
Anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani rasa bersalah.
d. Industry vs inferioritas (6 tahun hingga pubertas)
anak belajar ketrampilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten atau tidak bersaing
e. Identitas vs kekacauan identitas (pubertas hingga dewasa awal)
Remaja ahrus menentukan pemahaman dirinya sendiri atau kekacauan identitas, tidak mendapatkan identitas yang pasti
f. Intimasi vs isolasi (dewasa awal)
Mencoba membuat komitmen dengan orang lain, apabila tidak sukses maka akan terjadi peng isolasi an diri.
g. Produktivitas vs stagnasi (dewasa tengah)
Perhatian orang dewasa yang sudah matang adalah membangun dan membimbing generasi selanjutnya dan merasa tidak percaya diri.
h. Integritas vs putus asa (dewasa akhir)
Individu yang lebih tua mendapat penerimaan terhadap hidup, membuatnya dapat menerima kematian, atau sebaliknya, putus asa atas ketidakmampuannya menghidupkan kembali hidupnya.

Perbedaan Teori Psikoanalisa dan Teori Psikososial

Dalam (Human Development Edisi 9, Diane E.Papalia) teori Erikson lebih meyakinkan ketimbang Freud khususnya dalam hal penekanannya terhadap nilai penting pengaruh sosial dan kultural dan tentang perkembangan setelah remaja. Walaupun demikian, sebagaimana teori Freud, beberapa teori Erikson belum teruji secara ketat.
Ketika freud menekankan bahwa pengalaman di awal masa kanak-kanak membentuk kepribadian secara permanen, Erikson malah menyatakan bahwa perkembangan ego bersifat seumur hidup.

SKIZOFRENIA

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita pernah mendengar tentang Skizofrenia. Tapi sebenarnya apakah Skizofrenia itu? Saya akan membahas mengenai ini.
Skizofrenia dalam bahasa Yunani skhizein yang atinya memisahkan dan phren yang artinya pikiran. Jadi, Skizofrenia ini adalah sebuah psikiatri diagnosis yang menggambarkan gangguan mental yang ditandai juga dengan kelainan/ungkapan realitas.
Skizofrenia juga bisa dibilang adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Skizofrenia bisa dapat menyerang siapa saja. Menurut data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia, 75 % penderita Skizofrenia biasanya berumur 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa awal memang rentan terjadinya penyakit ini. Mungkin dikarenakan terlambatnya disadari oleh para keluarga dan lingkungannya, karena dianggap sebagai penyesuaian diri atau tahap penyesuaian dirinya dengan lingkungan.
Disini saya akan menuliskan gejala-gejala yang terjadi pada orang yang terkena Skizofrenia.
1. ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, dan acuh tak acuh.
2. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial).
3. Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi.
4. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.
Biasanya gejala-gejala Skizofrenia ini dibagi menjadi 2 kelas yaitu :
1. Gejala-gejala positif
Seperti halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
2. Gejala-gejala negative
disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).

Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.
Kesabaran dan perhatian sangat penting dan sangat diperlukan oleh penderita Skizofrenia.

(Dikutip juga dari Wikipedia Indonesia 2009, 16.30)