Jumat, 18 Desember 2009

Cara tetap berlaku baik kepada orang yang telah menyakiti

Cara tetap berlaku baik kepada orang yang telah menyakiti

Mencintai orang yang kita cintai adalah pekerjaan yang mudah sekali. Karena akan kita lakukan dengan sukarela, senang hati, sepenuh perasaan dan segenap jiwa. Tetapi ketika kita berhadapan dengan situasi sebaliknya : seseorang yang kita ‘benci’, karena telah menyakiti kita,...maka apakah kita juga tetap mesti mencintainya ??? Kita hanya boleh membenci perbuatannya, yang menyebabkan kita tersakiti, dan bukan orangnya !! Kita mesti memaafkan dia atas perbuatan ‘bodoh’ dan ‘khilaf’nya yang tak disadari telah menyakiti hati kita, dan memohon membukakan mata dan hatinya agar menyadari kesalahannya. Dan itu hanya bisa kita lakukan, jika kita tak lagi memiliki dendam di hati.

Mencintai orang yang menyakiti kita adalah suatu perbuatan yang luar biasa indah,..sepanjang itu dilakukan sepenuh hati. Karena tak ada tempat bagi dendam dan benci !! Inilah cara ampuh agar orang yang menyakiti kita sadar bahwa kita tetap berlaku baik padanya, seolah tak ada sesuatupun terjadi , yang pada akhirnya akan berbalik membuat ia malu dan meminta maaf pada kita, karena menyadari kebesaran hati dan jiwa kita.
Mudah untuk diucapkan, sulit untuk diamalkan !! Tetapi satu yang mesti diingat : apakah kita jadi lebih bahagia karena hidup bersama dendam, yang membakar akal sehat kita? Sementara dendam akan menggerogoti hati kita hingga penuh lubang. Dendam juga seperti api yang membakar kebaikan.

Bagaimana dampak kesehatan mental dari orang yang selalu bergantung dengan orang lain atau ketergantungan

Bagaimana dampak kesehatan mental dari orang yang selalu bergantung dengan orang lain atau ketergantungan

Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung pada orang lain hingga individu tersebut patuh dan terikat erat perilakunya dan takut akan terpisah dengan orang itu. Perilaku ketergantungan dan kepatuhan muncul dari perasaan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah tanpa bantuan orang lain.
Dinyatakan sebagai gangguan bila perilaku-perilaku tersebut menjadi menetap dan sangat mengganggu dan menimbulkan distres. Ganguan kepribadian dependen haruslah dipisahkan (diperhatikan) antara anak-anak dan orang dewasa, pada anak mungkin saja perilaku ini masih dalam tahap perkembangan.

FAKTOR PENYEBAB

Gangguan kepribadian ini dimulai di awal masa dewasa. Pada dasarnya perilaku ketergantungan adalah hal yang lumrah terjadi pada masa kanak-kanak, namun demikian ketika anak tumbuh menjadi dewasa, perilaku tersebut tidak menjadi hilang. Akibatnya, perilaku ketergantungan tersebut tetap ada sampai menjelang masa dewasa yang kemudian membentuk gangguan kepribadian dependen. Faktor penyebab lainnya adalah sakit berkepanjangan dan kecemasan yang muncul dari perpisahan dengan orangtua, atau orang lain yang sangat dicintainya pada masa kanak-kanak

SIMTOM

1) Kesulitan dalam membuat keputusan setiap harinya tanpa adanya nasehat dan dihibur oleh orang lain

2) Membutuhkan orang lain untuk memikul tanggungjawab pada sebagian besar dalam hidupnya

3) Takut untuk menunjukkan ekspresi ketidaksetujuan terhadap orang lain dikarenakan takut kehilangan support dan persetujuan dari orang tersebut (tidak termasuk ketakutan nyata untuk balas jasa orang lain)

4) Sulit melakukan suatu pekerjaan tertentu tanpa bantuan orang lain (disebabkan rendahnya rasa percaya diri, kurangnya motivasi dan energi)

5) Membutuhkan orang lain yang memberikan dukungan atau teman ketika berpergian atau melakukan suatu pekerjaan yang tidak disukainya.

Cognitive behavioral therapy

Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik relaksasi dan meditasi secara tepat. Terapi ini melatih individu mengontrol emosi negatif, melatih diri agar tidak tergantung pada orang lain dan pengambilan keputusan yang lebih konstruktif tanpa dipengaruhi oleh perasaan negatif.

Arti Sahabat

Arti Sahabat

Sahabat adalah orang yang paling dipercaya, yang bisa diajak cerita tentang masalah kita, yang ada di saat kita butuh atau bahkan saat kita tidak butuhpun sahabat ada disamping kita untuk menemani kita. Seorang sahabat sejati sulit sekali untuk kita cari atau kita jumpai, karena mencari sabat sejati itu memang bener-bener sangat sulit.

Sahabat adalah seseorang yang kalau kita lagi sedih ia bisa membuat kita tersenyum sementara ketika kita senang dia akan lebih senang dari kita. Ia menjadi zat penting yang memberi warna dalam kehidupan kita.
Sahabat itu teman curhat, ngga ada istialh stress ketika dirundung masalah, seberat apapun masalah itu kalau kita punya sahabat. Dalam hal ini sahabat bisa menjadi tempat berbagi cerita, teman curhat, yang nyaman. Kita bisa ngungkapin semua perasaan kita selain kepada keluarga atau pacar yaitu kepada sahabat kita. Sahabat itu adalah dewa penolong. Butuh bantuan, butuh pertolongan kenapa engga lari ke sahabat. Siapa tau dia bisa bantu, bisa kasih solusi, atau paling tidak sekedar opini. Tapi bukan berarti setiap masalah harus lari ke sahabat, yang paling baik dan utama adalah dengan menyelesaikannya dengan sendiri, baru ke keluarga terus orang terdekat yaitu sahabat dan tidak lupa minta kepada yang di atas. Belajar mandiri ceritanya.

Sahabat itu cermin bagi diri kita, rujukan tempat kita mengekspresikan diri. Sahabat itu seperti tubuh, bila tubuh kita salah satu sakit, maka yang lain akan merasa sakit. Misalnya kalau kaki kita terantuk batu, pasti dengan mulut refleks akan bilang “aduh”, tangan langsung mengusap dan mengobatinya, tanpa diminta dan tanpa disuruh, begitu juga seorang sahabat dia akan punya kesadaran diri kalau sahabatnya sedang dalam kesulitan, dan itu dilakukan atas dasar keikhlasan bukan paksaan apalagi pamrih, ya seperti tubuh kita yang sakit tadi.

Kamis, 17 Desember 2009

harta bukan segalanya bagi anak broken home

Harta bukan segalanya bagi anak broken home

Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur. Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi.
Pada umumnya penyebab utama dalam broken home adalah perceraian orang tua, sehingga anak menjadi tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Dalam setiap kasus broken home, anak selalu menjadi atau dijadikan korban.. Karena orangtua kerap melibatkan anak dalam konflik keluarga. Banyak orangtua yang saling tarik-menarik anak saat konflik berlangsung dengan alasan cinta. Anak yang menjadi terombang-ambing antara dua orang yang mengaku paling menyayanginya. Adakah cinta orangtua yang tidak saling mencintai untuk anak yang membutuhkan cinta tulus?
Ironisnya, banyak diantara anak korban broken home yang memilih lari dari keluarganya dan bersahabat dengan narkoba atau hal-hal negatif lainnya. Dalam beberapa kasus, orangtua malah menyalahkan anak yang tidak bijak memilih pergaulan atau justru saling menyalahkan yang menambah beban pikiran anak. Jika dibiarkan, hal tersebut akan menghilangkan kepercayaan anak terhadap orangtua. Akhirnya, keberadaan orangtua tidak lagi dianggap penting oleh anak. Kadang-kadang orang tua menunjukkan rasa kasih sayang itu dengan materi yang berlebihan, secara tidak langsung materi tidak terlalu butuh tetapi yang di butuhkan adalah kasih sayang orang tua yang benar-benar sosok seorang ibu atau ayah yang bisa melindungi dan mengerti perasaan pada anak tersebut.

Pengaruh broken home

•Anak akan sulit belajar kaena kekacauan di rumah, juga akan sangat mengganggu ketenangan dan kestabilan jiwa anak.

•Akan merasa malu dan minder terhadap orang di sekitarnya karena kondisi orang tuanya yang sedang dalam keadaan “Broken Home”.

•Tekanan mental itu mempengaruhi kejiwaannya sehingga dapat mengakibatkan stress dan frustrasi bahkan seorang anak bisa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

•Akan sulit untuk bergaul dengan teman di llingkungan sekitarnya.

•Akan terpengaruh dengan narkoba dan yang lainnya.

Cara mengatasi

•Berpikir positif misalanya, Peristiwa yang kita alami kita lihat dari sisi positifnya. Karena di balik semua masalah pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Jadikan itu semua sebagai proses pembelajaran bagi kita sebagai remaja menuju tahap kedewasaan. Jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita ke jurang kehancuran.

•Mencoba hal yang baru cari hobi apa saja yang membuat kita nyaman dan positif supaya pikiran kita lebih fresh.

•Cari tempat untuk berbagi di saat kita lagi sedih atau banyak masalah dan harus lebih terbuka.

Senin, 23 November 2009

kleptomania terjadi pada anak-anak

Kleptomania Terjadi Pada Anak-Anak

Kleptomania adalah klepto diartikan sebagai suatu kecendrungan yang dimiliki seseorang untuk mengambil benda-benda milik orang lain, dengan atau tanpa sepengetahuan orang tersebut. Mania berarti dilakukan berulang kali dan menjadi suatu kebutuhan untuk orang tersebut. Kleptomania sebenarnya sama saja dengan mencuri karena intinya adalah mengambil milik orang lain. Kleptomania sebenarnya bukanlah suatu kecendrungan yang dibawa sejak lahir, namun hal tersebut terjadi karena proses pengkondisian diri lingkungan sosial. Jika dibiarkan dan tidak ditangani maka seiring dengan usia, perilaku kleptomania akan berkembang menjadi perilaku-perilaku buruk yang lain seperti berkata bohong, menyangkal, menyalahkan orang lain, tidak bertanggung jawab dan memanipulasi fakta yang kesemuanya akan bermuara pada pembentukan sifat kurang peka terhadap perasaan orang lain atau yang lebih parah adalah tingkah laku yang anti sosial atau psikopat..

Sang penderita biasanya merasakan rasa tegang subjektif sebelum mencuri dan merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan tindakan mencuri tersebut. Tindakan ini harus dibedakan dari tindakan mencuri biasa yang biasanya didorong oleh motivasi keuntungan dan telah direncanakan sebelumnya. Penyakit ini pada umum muncul usia 5-6 tahun atau sebelum sekolah. Pada beberapa kasus, kleptomania diderita seumur hidup. Penderita juga mungkin memiliki kelainan jiwa lainnya, seperti kelainan emosi, Bulimia Nervosa, paranoid, schizoid, atau borderline personality disorder. Kleptomania dapat muncul setelah terjadi cedera otak traumatic dan keracunan karbon monoksida.

 Cara untuk terhindar dari kleptomania

1. Menanamkan konsep kepemilikan
Dengan memahami konsep kepemilikan maka anak akan bertanggung jawab dengan barang-barang miliknya dan menghormati barang orang lain. Jika dia menginginkan barang orang lain, anak harus minta izin terlebih dahulu. Untuk mengasah empatinya, diskusikan dengan anak apa yang dia rasakan jika barang yang dimilikinya diambil oleh orang lain tanpa izin.

2. Membiasakan bersikap jujur
Tanamkan pada anak untuk selalu berkata dan bersikap jujur karena itu adalah modal untuk mendapatkan kepercayaan orang lain.

3. Menjadi teladan
Orang tua harus menjadi contoh yang baik karena mereka selalu melihat apa yang orang tua lakukan.

4. No labelling
Jangan kacaukan upaya perbaikan sikap anak dengan mengungkit-ungkit peristiwa pencurian yang telah dia lakukan, apalagi ditambah dengan memberikan julukan "si klepto" atau "tukang nyuri" karena saat dipanggil dengan julukan tersebut maka dia akan berperilaku sesuai dengan julukannya.

5. Ingatkan bahwa selalu "ada yang Maha Melihat"
Dengan memberikan pendidikan agama sejak dini, kita bisa memasukkan konsep Ketuhanan dan mengingatkan anak bahwa dimanapun mereka berada, tidak akan pernah sendirian karena Tuhan selalu melihat apa saja yang mereka lakukan. Dan Tuhan akan menyayangi anak-anak yang berbuat baik.

Keberhasilan dalam penanganan masalah ini sangat tergantung pada konsistensi, kesabaran dan kekompakan keluarga serta orang-orang di sekitar seperti guru dan kerabat. Dan ingatlah bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan.

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kleptomania

Sabtu, 21 November 2009

Halusinasi

Halusinasi
Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsangan nyata terhadap indera. Kualitas nyata terhadap penderita sangat jelas, substansial dan berasal dari luar ruangan nyatanya. Definisi ini dapat membedakan halusinasi dengan mimpi, berkhayal, ilusi, dan pseudohalusinasi (tidak sama dengan persepsi sesungguhnya, namun tidak dalam keadaan terkendali). Contoh dari fenomena ini adalah dimana seseorang mengalami gangguan penglihatan, dimana ia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama.
Halusinasi juga harus dibedakan dengan delusi pada persepsi, dimana indera menangkap rangsang nyata, namun persepsi nyata yang diterimanya itu diberikan makna yang dan berbeda (bizzare). Sehingga orang yang mengalami delusi lebih percaya kepada hal-hal yang atau tidak masuk logika.
Halusinasi dapat dibagi berdasarkan indera yang bereaksi saat persepsi ini terbentuk, yaitu
Halusinasi visual
Halusinasi audiotori
Halusinasi olfaktori
Halusinasi gustatory
Halusinasi taktil

Pencetus terjadinya halusinasi
1. sori Sakit dengan panas tinggi sehingga mengganggu keseimbangan tubuh.
2. Gangguan jiwa skizofrenia
3. Pengkonsumsian narkoba atau narkotika tertentu seperti: ganja, morphin, kokain dan Itd
4. Trauma yang berlebihan

HALUSINASI

Menurut fortinash (1955) Adalah ketidakmampuan klien dalam mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai yang diterima oleh panca indra yang ada. Halusinasi menurut Sheila L videbeck (2000) adalah persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada. Halusinasi menurut Towsend (1998) adalah suatu keadaan dimana individu mengalami suatu perubahan dalam jumlah atau pola rangsang yang mendekat (baik yang dimulai secara eksternal maupun internal) disertai dengan respon yang berkurang dibesar-besarkan, distorsi atau kerusakan rangsang tertentu Dari keempat pengertian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa halusinasi adalah persepsi yang timbul tanpa stimulus eksternal serta tanpa melibatkan sumber dari luar yang meliputi semua system panca indra.

Faktor predisposisi dari halusinasi menuruut Stuart & Laraia (1998) adalah aspek biologis, psikologis, genetik, sosial dan biokimia. Dari predisposisi tersebut pada klien Y yang dominan adalah faktor sosial karena klien menikah dalam usia muda (belum siap fisik dan psikis)dan orang tua klien bercerai pada saat klien berusia 11 tahun dan faktor psikologis dimana klien mempunyai kepribadian tertutup. Jika tugas perkembangan terlambat atau hubungan interpersonal terganggu, maka individu akan mengalami stress atau kecemasan. Beberapa faktor di masyarakat dapat membuat seseorang terisolasi dan kesepian sehingga menyebabkan kurangnya rangsangan dari eksternal. Stress yang menggangggu sistem metabolisme tubuh akan mengeluarkan suatu zat yang bersifat halusinogen. menggangggu sistem metabolisme tubuh akan mengeluarkan suatu zat yang bersifat halusinogen.
klien, biasanya hal ini untuk pengembangan koping menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan diganti dengan hayalan yang menyenangkan.
Masalah keperawatan yang menjadi penyebab munculnya halusinasi adalah harga diri rendah dan isolasi sosial (Stuart & Laraia, 1998). Akibat rendah diri dan kurangnya keterampilan mengakibatkan sosial klien menjadi menarik diri dari lingkungan.selanjutnya klien akan lebih terfokus pada dirinya sendiri. Stimulus inernal akan menjadi lebih dominan daripada stimulus eksternal. Klien lama kelamaan akan kehilangan kemampuanmembedakan stimulus internal dengan stimulus eksternal. Ini memicu terjadinya halusinasi. Selain itu akibat lanjut dari kondisi rendah diri dan kuranngnya kemampuan klien berhubungan dengan orang lain yang membuat klien menarik diri dari lingkungan membuat klien mengalami penurunan motivasi karena ia merasa tidak mampu melakukan apapun sehingga akan memunculkan masalah kurangnya perawatan diri klien.
Masalah keperawatan rendah diri yang terjadi pada klien dapat didukung oleh koping keluarga tidak efektif: kurang pengetahuan, ketidakmampuan merawat klien dan bahkan menolak klien berada di rumahnya. Hal ini dapat membuat klien kurang mendapat penguatan terhadap kemampuan yang ia miliki sehinggga klien menganggap dirinya makin tidak berharga dan mengakibatkan keluarga kurang tepat dalam menanganni klien di rumah atau regimen therapeutik tidak efektif.
Menurut Towsend & Mary (1995), tanda dan gejala halusinasi adalah sebagai berikut:
1. Berbicara, senyum dan tertawa sendirian.
2. Mengatakan mendengar suara, melihat, menghirup, mengecap dan merasa sesuatu yang tidak nyata.
3. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
4. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata, serta tidak mampu melakukan asuhan keperawatan mandiri seperti mandi, sikat gigi, berganti pakaian dan berhias yang rapi.
5. Sikap curiga, bermusuhan , menarik diri, sulit membuat keputusan, ketakutan, mudah tersinggung, jengkel, mudah marah, ekspresi wajah tegang, pembicaraan kacau dan tidak masuk akal, banyak keringat.

Dibawah ini beberapa tipe dari halusinasi (Cancro & Lehman, 2000):
1. Halusinasi Pendengaran
Mendengar suara-suara, sering mendengar suara-suara orang berbicara atau membicarakannya, suara-suara tersebut biasanya familiar. Halusinasi ini paling sering dialami klien dibandingkan dengan halusinasi yang lain.
2. Halusinasi Penglihatan
Melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada, seperti cahaya atau seseorang yang telah mati.
3. Halusinasi Penciuman
Mencium bau-bau padahal di tempat tersebut tidak ada bau. Tipe ini sering ditemukan pada klien dengan dimensia seizure atau mengalami gangguan cerebrovaskuler.
4. Halusinasi Sentuhan
Perasaan nyeri, nikmat atau tidak nyaman padahal stimulus itu tidak ada.
5. Halusinasi Pengecapan
Termasuk rasa yang tidak hilang pada mulut, perasaan adanya rasa makanan dan berbagai zat lainnya yang dirasakan oleh indra pengecapan klien.
Bermacam-macan bentuk halusinasi
1. Halusinasi auditorik (pendengaran)
Halusinasi ini sering berbentuk :

a. Akoasma, yaitu suara-suara kebisingan tanpa dapat dibedakan makna secra jelas.

b. Phonema, yaitu suara-suara dari manusia berupa kalimat. Penderita mendengar kalimat-kalimat secara jelas atau potongan kalimat (kata) tertentu saja

2. Halusinasi visual (penglihatan)
Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi pada penderita psikotik dan schizophrenia menimbulkan ketakutan luar biasa. Individu merasa dirinya terancam karena "melihat" orang-orang yang ingin membunuhnya, mencari atau menangkapnya. Halusinasi ini kadang juga dalam bentuk cahaya.

3. Halusinasi olfaktorik (pembauan)
Penderita merasa mencium sesuatu yang tidak dia sukai.

4. Halusinasi gustatorik (pengecap)
Halusinasi ini sangat jarang dilaporkan atau dijumpai. Individu mengecap sesuatu yang tidak disukainya, pada penderita schizophrenia berperilaku meludah secara terus-menerus karena merasakan rasa yang tidak disukainya.

5. Halusinasi taktil (perabaan)
Halusinasi ini sering dijumpai pada pencandu narkotika dan obat terlarang.

6. Halusinasi haptik
Halusinasi ini biasanya beriringan dengan halusinasi taktil dimana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan individu atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba

Halusinasi ini biasanya beriringan dengan halusinasi taktil dimana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan individu atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba.

7. Halusinasi kinestetik
Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita schizophrenia dan pencandu narkoba.
8. Halusinasi autoskopi
Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya.

9. Halusinasi mikrokospik
Beberapa gangguan kecemasan seperti obsesif kompulsif merasakan sesuatu yang bergerak-gerak (seperti kuman, bakteri, insekta) diatas kulitnya.


Beberapa kondisi yang memungkinkan kemunculan halusinasi.

1. Demam tinggi
2. Keracunan atau penggunaan marijuana (ganja), LSD, kokain (crack), heroin
3. Dimensia atau delirium
4. Kerusakan panca indera seperti kebutaan dan tuli
5. Beberapa kondisi medis seperti kegagalan hati, kanker otak
6. Kondisi psikiatrik seperti schizophrenia, depresi dengan psikotik, dan PTSD (post traumatic stress disorder)

sopan santun dan makna sopan santun

Sopan Santun dan Makna Sopan Santun
Sopan santun adalah suatu sikap atau tingkah laku yang ramah terhadap orang lain, sopan santun juga dapat di pandang oleh suatu masyarakat mungkin sebaliknya masyarakat juga dapat di pandang oleh masyarakat lain. Memang tidak mudah untuk menerapkan sopan santun pada diri kita sendiri, tetapi jika orangtua kita berhasil mengajarkan sopan santun sejak kecil maka kita akan tumbuh menjadi seseorang yang bisa menghormati dan menghargai orang lain. Kita dapat menunjukan sikap sopan santun dimana saja, misalnya kita sebagai mahasiswa harus sopan terhadap dosen. Sopan santun diperlukan ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain, dengan terutama kepada:
1.yang lebih tua: orang tua, guru, atasan
2.yang lebih muda: anak, murid, atau bawahan
3.yang sebaya: setingkat status social

Makna Sopan Santun
Bahwa seseorang bukan saja tidak menganggap dirinya lebih tinggi dari pada orang lain, melainkan menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya sendiri. Sopan-Santun tidak selalu menghasilkan kebaikan hati, keadilan, kepuasan, atau rasa syukur, tetapi ini dapat memberikan seseorang paling tidak terlihat sopan, dan membuatnya tampak dari luar apa yang seharusnya menjadi benar-benar terhormat.